Berima dengan "simpang"—lima kata, empat soal keseimbangan
Hari keempat minggu "jalan" adalah "simpang" (persimpangan, percabangan). Hari sebelumnya adalah "arah".
Lima kata, dan empat di antaranya sekeluarga
Rima sempurna "simpang" ada 5: imbang (seimbang), timbang (menimbang), timpang (tidak seimbang), bimbang (ragu, cemas), dan rimpang (rimpang tanaman). Empat di antaranya umum.
Yang aneh: dari lima kata itu, empat berbicara tentang hal yang sama. Imbang, timbang, timpang, bimbang—seimbang, menimbang, pincang, dan ragu-ragu. Semuanya soal berat sebelah, mengukur, dan tidak bisa memutuskan.
Ini jarang terjadi. Di daftar "arah" kemarin ada 55 kata dan maknanya berserakan ke mana-mana: gajah, wabah, kawah, darah. Di sini daftarnya cuma lima, tapi isinya nyaris satu tema.
Kenapa maknanya menumpuk
Sebabnya bukan kebetulan murni. Keempatnya berbagi akar bunyi yang sama—-imbang / -impang—dan dalam bahasa Indonesia rangkaian itu memang terpakai untuk gagasan berat dan keseimbangan. Kunci rima mencocokkan i–a plus m dan ng, dan yang lolos saringan sesempit itu kebetulan hampir seluruhnya berasal dari lingkungan makna yang sama.
Simpang dan bimbang
Untuk lirik, pasangan terbaiknya jelas: simpang dan bimbang.
Berdiri di persimpangan, dan tidak tahu harus ke mana. Situasi dan perasaannya sudah sepasang sebelum kita mencari rimanya—dan ternyata bunyinya juga sepasang.
Tambahkan timpang dan barisnya selesai: simpang, bimbang, timpang. Tiga kata, satu adegan.
Yang hampir masuk
Bunyi serupa berisi simpan (menyimpan), simbar, simbah, timpang, rimpang. Perhatikan simpan: bedanya dengan "simpang" hanya satu bunyi di ujung, n melawan ng. Telinga hampir tidak membedakannya, tapi kunci rima menempatkan keduanya di kelompok yang sama sekali berbeda: yang satu berkumpul dengan kata berakhiran -impan, yang satu dengan -impang.
Rima vokal "simpang" (hanya vokalnya, i–a) melebihi batas tampilan 120 kata.
Cari "simpang" di Raimz untuk melihat daftar rima dan pelafalannya.